Monday, January 16, 2012

Menyalakan Lampu Bagi Sepeda Motor Di Siang Hari dan Peraturannya



Sebuah blog yang menarik dengan judul “Menyalakan Lampu Bagi Sepeda Motor Di Siang Hari Adalah Aturan Konyol?”, saya tertarik untuk sekedar memberikan pendapat saya.



Sebelumnya saya ingin mengutip beberapa tulisan dari blog tersebut. 
…. memang pada dasarnya aturan ini bukan untuk membuat kepastian akan keselamatan anda saat mengendarai motor setiap hari. Namun aturan ini dibuat untuk membuat resiko motor tidak terlihat menjadi lebih kecil dan akhirnya diharapkan mampu menekan angka kecelakaan sepeda motor. Sisanya, attitude kita yang berbicara. Masih memiliki teori lain? terserah anda. Ini teori saya. Resiko anda tanggung sendiri.(*)
Saya merupakan pengguna kedua kendaraan tersebut dan saya merasa senang ketika ada orang lain yang berpendapat sama seperti saya.

 oleh : onienovarro
Saya pengemudi Motor dan Mobil, saya tahu persis manfaat dari menyalakan lampu di siang hari, terlebih lagi di malam hari. Surabaya adalah kota dimana Kampanye Safety Riding begitu giat, saya beruntung ada di kota ini. Percayalah suatu saat ketika anda mengemudikan Mobil anda akan tahu manfaat Motor menyalakan lampu di siang/malam hari. Taat Aturan Lalu Lintas Jelas Lebih Baik.”
Memang awalnya banyak orang yang mengeluhkan mengenai peraturan harus menyalakan lampu disiang hari. Banyak yang beranggapan bahwa akan membuat bensin boros atau lampu akan lebih cepat putus atau mati. Sebenarnya saya tidak bisa menyalahkan pendapat tersebut karena memang setiap orang punya alasan masing-masing untuk “malas” menyalakan lampu disiang hari. 



Secara teori pun, saya awalnya sering bertanya, “Terang-terang (siang hari) nyalain lampu? Gak ngefek lah, gak keliatan lampunya”. Saya juga pernah belajar fisika, dimana dua buah cahaya dengan intensitas tertentu yang mirip, hampir tidak bisa dibedakan pada jarak pandang tertentu (kalau tidak salah). Mungkin, karena saya pengendara kedua belah pihak tersebut, saya lebih cepat mengerti apa maksudnya. Saya pikir, dengan menyalakan lampu disiang hari pada motor, akan membuat keselamatan mobil dan motor meningkat. Setidaknya, mobil bisa lebih “ngeh” atau sadar kalau ada kendaraan yang suka “was-wes-wos” didekatnya. Jika pengendara mobil melihat kedepan, jika ada pantulan cahaya dari spion, setidaknya pengendara tersebut tahu ada motor didekatnya tanpa harus melihat ke spion untuk mengetahui siapakah pengendara motor bahkan berkenalan dengan pengendaranya, ehm. 


Sebenarnya, terus terang saja, saya tidak merasakan hal yang signifikan ketika berkendara didalam kota. Kenapa? Didalam kota apalagi Jakarta “tercinta”, saat hari kerja, berapa sih kecepatan yang bisa diraih? 40km/jam saja udah bisa disyukurin, itu juga hanya berapa detik. Jadi buat apa spion kalau jalannya hanya mengikuti “kekhidmatan” parkir di jalan raya? Saya lebih memfungsikan spion dalam keadaan kemacetan untuk memposisikan mobil yang saya kendarai agar tidak menyusahkan motor (karena saya merasa kesal juga kalau ada mobil yang katanya “city car” dengan dimensi yang kecil tapi suka menghalangi lajur “pinggiran” motor. Selain itu, fungsi spion diparkiran jalan dalam kota yaitu jika ingin berbelok, biasanya motor itu tidak peka, padahal “sign” udah nyala dengan jelas, malah yang saya ragukan, apakah lampu “sign” mobil itu kurang terang sampai motor itu lihat tapi diacuhkan atau memang tidak melihat (saya tidak tahu lagi ini, ini urusan pengendara dengan sang Pencipta, hanya Dia yang tahu kepastiannya). 


Jalan luar kota, ini yang saya rasakan fungsi yang sangat tepat untuk menyalakan lampu motor pada siang hari. Saya sering berkendara mobil lewat jalur pantura. Bahkan sebelum diwajibkan menggunakan lampu siang ini, sudah banyak motor dijalur pantura yang menyalakan lampu, terlebih saat mudik, mungkin bisa diatas 90% yang menyalakan lampunya. Mengapa? Jelas mereka menginginkan keselamatan untuk kedua belah pihak. Jalur pantura itu selain jalannya “gak” layak dilintasi karena banyak lubang yang kalau musim hujan saya yakin suka ada yang pelihara ikan disana, dirawat, lalu dipanen ditengah jalan tersebut dan dijual dipasar sekitar yang suka mengakibatkan kemacetan berkilo-kilo tersebut sesungguhnya membuat noise yang sangat tinggi didalam kabin mobil. Selain putaran mesin “ala pembalap” dengan RPM tinggi supaya mudah melewati pahlawan sejati perputaran uang dan barang Negara namun sering diacuhkan kehidupannya (baca: truk) dan setelan audio yang cukup keras, pengemudi tidak bisa “aware” dengan suara motor yang ada didekatnya selain dari spion. Untuk itulah, lampu siang sangat bermanfaat. 


Kembali ke pelajaran SD dahulu, peraturan bersifat mengikat dan bisa memaksa. Untuk apa? Untuk terjadi kesinambungan dalam hidup bermasyarakat. Sesuatu yang memaksa dan mengikat bisa saja merubah kebiasaan yang kurang baik. Untuk masalah banyaknya tilang ini saya rasa lebih ke mental pribadi masing-masing, jikalau ada oknum yang suka “ringan tilang” dan pengendara yang “ringan dompet dan waktu” lebih baik untuk mentaati peraturan tersebut. 



Untuk peraturan mengenai menyalakan lampu tersebut, saya sebenarnya tidak patuh. Yang saya patuhi adalah harga dari nyawa saya. Dengan menyalakan saklar lampu menggunakan jempol yang saya rasa hanya butuh 5 Newton dan harga lampu 10 ribu rupiah sekitar satu sampai dua tahun sekali, saya akan memperpanjang hidup saya.



 


Monday, January 2, 2012

The Count of Tuscany

Another great song by Dream Theater



 The Count of Tuscany



Several years ago
In a foreign town
Far away from home
I met the Count of Tuscany

A young eccentric man
Bred from royal blood
Took me for a ride
Across the open countryside

Get into my car
Let's go for a drive
Along the way I'll be your guide
Just step inside
Maybe you'll recall
I kind of felt curious
A character inspired by my brother's life

Winding through the hills
City far behind
On and on we go
Down narrow streets
And dusty roads

At last we came upon
A picturesque estate
On sprawling emerald fields
An ancient world
Of times gone by

Let me introduce my brother
I've been a gentleman
Historian
Sucking on his pipe
Distinguished accent
You're making me uptight
No accident

I wanna stay alive
Everything about this place
Just doesn't feel right

I don't wanna die
Suddenly I'm frightened
For my life

I wanna say goodbye
This could be the last time
You see me alive

I may not survive
Knew it from the moment
We arrived

Would you like to see
A secret, holy place?
I come here late at night
To pray to him by candlelight

Then peering through the glass
I saw with disbelief
Still dressed in royal clothes
The saint behind the altar

History recalls
During times of war
Legend has been traced
That inside these castle walls

When soldiers came to hide
In barrels filled with wine
Never to escape
These tombs of old
Are where they died

Down the cellar stairs
I disappeared
Like the English heir
The end is near
Come and have a taste
A rare vintage
All the finest wines
Improve with age

I wanna stay alive
Everything about this place
Just doesn't feel right

I don't wanna die
Suddenly I'm frightened
For my life

I wanna say goodbye
This could be the last time
You see me alive

I may not survive
Knew it from the moment
We arrived

---

Could this be the end?
Is this the way I die?
Sitting here alone?
No one by my side

I don't understand
I don't feel that I deserve this
What did I do wrong?
I just don't understand

Give me one more chance
Let me please explain
It's all been circumstance
I'll tell you once again

You took me for a ride
Promising a vast adventure
Next thing that I know
I'm frightened for my life

Now wait a minute, then
That's not how it is
You must be confused
That isn't who I am

Please don't be afraid
I would never try to hurt you
This is how we live
Strange although it seems
Please try to forgive

The chapel and the saint
The soldiers in the wine
The fables and the tales
All handed down through time

Of course you're free to go
Go and tell the world my story
Tell them about my brother
Tell them about me
The Count of Tuscany

Friday, December 16, 2011

Review : Winamp V.5.622




Sebenernya udah beberapa minggu mau member komentar mengenai salah satu software music player sejuta umat, Winamp. Alasan saya mau mengulas Winamp ini adalah karena update terbarunya sangat berbeda dari kualitas suaranya. Meskipun saat ini, Winamp sudah mulai tersaingi, bahkan kalah oleh software music lainnya seperti iTunes, audacity, jetAudio, maupun foobar. Dari ulasan beberapa teman di forum dan lainnya, memang untuk penikmat suara (Audiophile) lebih cenderung menggunakan foobar, selain ringan tetapi bisa bekerja dengan sedikit modifikasi ini-itu dan bisa diatur untuk keluaran output DAC tertentu. Tentu hal ini menarik bukan? Sayangnya saya malas mengutak-atik ini itu.

Sebelum software Winamp terbaru edisi v5.622, saya menggunakan v5.58. Sebenarnya dari versi tersebut tidak cukup jauh ( sekitar satu sampai dua tahun) jaraknya. Hanya saja saya merasa ketika memainkan music dengan versi terbarunya, agak berbeda.

Secara fisik memang sama karena saya memang menggunakan tema yang standar (malas utak-atik). Sebenarnya saya juga tidak tahu bahwa versi barunya beda di kualitas suaranya. Alasan saya pindah versi adalah karena shoutCast-nya tidak bisa di versi lama, sementara yang dibaru bisa. Saya biasa mendengarkan Winamp menggunakan speaker multimedia Edifier, yang menurut saya suaranya pas dengan selera saya dengan harga yang terjangkau. Saat saya setel music, dengan speaker MM(multimedia) ini, saya tidak “ngeh” dengan perubahan suaranya saat pertama kali. Namun saat saya setel beberapa lagu referensi saya untuk menguji kualitasnya, mantep. Begitu pula dengan menggunakan headphone yang saya amplify terlebih dahulu. Suara hiss tetap ada (memang ini pengaruh sound cardnya) tetapi memang berbeda dengan suaranya terdahulu.

Perubahan suara paling signifikan adalah di positioningnya. Untuk suara atas (high freq) cenderung turun kualitasnya. Biasanya saya tidak bisa membayangkan posisi music ketika dimainkan lewat speaker, namun saat ini bisa terbayang, apalagi jika menggunakan headphone. Separasi music yang disajikan nyaris mendekati selera saya, yaitu dimana separasinya cukup jelas dengan penempatan posisi yang mudah untuk dibayangkan. Lalu saya bandingkan amplifier dan headphone saya yang dicolok ke Cowon S9, dan ternyata memang benar, suara Winamp ini mulai mendekati S9 saya, meskipun masih jelas perbedaannya. Tapi ini lebih baik daripada dahulu, ketika saya mengomparasikan laptop dengan S9. Ibaratnya anda berkendara naik Taksi Mercedes  lalu anda pindah menggunakan Taksi Vios atau apalah yang serupa. Tapi diversi terbarunya Taksi Vios tersebut nampaknya mulai berbenah untuk meningkatkan kenyamanannya.

Sebagai tambahan lagi, mungkin kualitas suara high-nya berkurang, namun sekali lagi biasanya untuk high freq ini sulit untuk dipisahkan dan dibayangkannya, sehingga saya merasa versi terbaru ini cukup signifikan untuk dicoba, apalagi gratisan.

Untuk kelemahannya saat ini adalah seringnya mengalami crash. Saya juga tidak mengerti sistem ini namun cukup sering mengalami crash, mungkin masih terlalu baru meskipun namanya tidak ada emblem BETA namun masih banyak bug-bugnya. Sekian ulasan dari saya, ini merupakan pendapat saya seluruhnya dan saya tidak bekerja di Winamp.

Friday, December 2, 2011

Apa Fungsi Countdown timer di Lampu Merah?


Saat ini saya berdiam di kota Bandung yang menurut saya kotanya cukup kecil. Sangat berbeda dengan kota kelahiran saya di Ibukota. Namun banyak kelebihan dari kota Bandung selain temperature udaranya yang lebih manusiawi daripada Jakarta, yaitu waktu tempuh yang relative lebih pendek dan fasilitas yang jauh lebih memadai. Rasio angkot dan penumpang yang lebih masuk akal daripada jumlah jalanan yang tersedia. Meskipun jaraknya tidak terlalu jauh, namun singkatnya waktu tidak sesignifikan ketika Jakarta sedang sepi. Jalanan di Bandung relative sempit dan banyak yang rusak. Sebenarnya jumlah rusaknya itu mirip seperti di Ibukota, namun rusaknya di Bandung itu akibat pembuatan jalan yang “sekedar” dan memperbaiki jalan tanpa menanggulangi masalah utamanya, erosi oleh air. Kalau di Jakarta, jarang sekali rusak dengan penyebab seperti di Bandung. Rusaknya di Jakarta itu kebanyakan proyek “bawah tanah”, baru saja diperbaiki tidak lama dibongkar lagi dengan alasan ini itu.



Fasilitas lainnya yang tampak adalah Countdown Timer di lampu merah. Hampir disetiap persimpangan lampu merah disini sudah dilengkapi alat tersebut. Kalau di Jakarta, hanya jalanan yang ramai dan “mahal” saja yang tersedia. Sebenarnya apa fungsi alat tersebut? 

Fungsi Countdown Timer yaitu membuat arus kendaraan lancar. Saat lampu hijau dihitung mundur dan sudah mau berganti warna menjadi merah, seharusnya para pengemudi sudah siap untuk mengerem, sementara pada kenyataannya, pedal gas malah diinjak keras. Jika semua pengemudi dianggap dalam kondisi ideal (melakukan hal yang seharusnya itu), kendaraan dari arah lain juga sudah bersiap sejak warnanya mau berubah dari merah ke hijau. Sehingga, antrean kendaraan dari depan sampai belakang serempak bergerak karena sudah bersiap sebelum lampu berubah menjadi hijau. Arus kendaraan pun menjadi lancar, tertib, dan aman.

Rasanya saya agak kesal ketika saya tepat berada dibelakang mobil paling depan, namun reaksinya lambat ketika lampu berubah menjadi hijau seakan-akan memang alat ini tidak ada. Memang prilaku tiap orang berbeda-beda saat sedang menunggu di lampu merah, namun bukannya kita tetap satu tujuan? Yaitu mencapai tujuan kita dengan cepat dan selamat. 

Saya juga lebih senang ketika lampu merah dipasang full LED. Selain karena hemat daya, pancaran sinaran tersebut tidak terlalu menyilaukan dan sangat jelas dilihat meskipun dari jarak jauh, berkabut, ataupun hujan deras. 

Monday, November 28, 2011

Kebutuhan atau Keinginan?

Di Negara tercinta yaitu Indonesia ini, memang merupakan sasaran pasaran yang “empuk” dari seluruh dunia. Kalau kita tengok kebelakang, banyak produsen-produsen ternama dunia (pastinya produknya tidak murah) yang akhirnya biasa kita lihat sehari-hari di jalanan. Sebenarnya apakah memang mereka para produsen tersebut memberikan produk berkualitas pada masyarakat dengan cara penjualan yang mengikat hati masyarakat Indonesia atau memang masyarakat Indonesianya sendiri yang konsumtif akan barang-barang tersebut. Apakah masyarakat kita itu butuh atau hanya sekedar keinginan?


 “Nafsu Memiliki Telepon Pintar” (Kompas, 26 November 2011, hal 1) ini menjelaskan dibukanya pembelian salah satu merek handphone terkenal dengan potongan 50% untuk 1.000 pembeli pertama. Sebenarnya ini tidak masalah jika antusiasnya normal. Namun sebaliknya, kondisinya menurut saya luar biasa, karena saat mengantre pembelian tersebut sangat ramai dan cukup rusuh. Dikabarkan ada beberapa orang yang pingsan, luka-luka, bahkan ada yang patah kaki. Bayangkan saja, diperkirakan produk keluaran RIM tersebut telah terjual sebanyak 9,7 juta di negara kita ini

Dalam kenyataannya, saya juga masih meragukan antara fungsi sebuah ponsel. Dari banyak orang yang saya temui, mayoritas pengguna high-end phone malahan tidak bisa memanfaatkan kelebihan dari ponsel mereka. Ini menandakan bahwa ponsel yang mereka yang cukup “wah” tersebut hanya digunakan layaknya ponsel mediocre dengan balutan casing dan pride yang sangat tinggi. Memang ini tidak menjadi masalah bila masyarakat tersebut benar-benar membutuhkannya, terlebih jika ponsel tersebut merupakan kreasi anak dalam negeri. 

Sebenarnya saya masih bertanya-tanya, kemanakah larinya investor dalam negeri ini? Saya sendiri melihat teman-teman saya dari jurusan informatika sangat lihai bermain OS yang sudah ada saat ini. Apakah kita tidak mampu atau tidak diberi kepercayaan? Ini sebenarnya sulit untuk dijawab karena pandangan tiap orang tentunya berbeda-beda. Saya sendiri sampai saat ini masih menggunakan produk RIM meskipun saya juga merasakan ponsel tersebut masih belum saya gunakan dengan maksimal. Tetapi setidaknya saya menyadari ketidakberdayaan saya terhadap produk asing tersebut. Jadi sebenarnya, apakah sifat konsumtif tersebut lahir karena keterpaksaan,  ketidakberdayaan, atau harga diri?

Friday, November 25, 2011

Cerita Kuliah Heat Exchanger

Foto ini diambil ketika kuliah Heat Exchanger 25 Novembet 2011 sekitar pukul 15.30.

Quote of this photo : banyak orang bermimpi masuk ITB, tapi setelah masuk ITB malah bermimpi juga disini

Saturday, October 1, 2011

Dream Theater - Answer Lies Within



Lyric
Music: Dream Theater, Lyrics: John Petrucci

Look around
Where do you belong
Don't be afraid
You're not the only one

Don't let the day go by
Don't let it end
Don't let a day go by in doubt
The answer lies within

Life is short
So learn from your mistakes
And stand behind
The choices that you make

Face each day
With both eyes open wide
And try to give
Don't keep it all inside

Don't let the day go by
Don't let it end
Don't let a day go by in doubt
The answer lies within

You've got the future on your side
You're gonna be fine now
I know whatever you decide
You're gonna shine

Don't let the day go by
Don't let it end
Don't let a day go by in doubt
You're ready to begin
Don't let a day go by in doubt
The answer lies within.


Ini salah satu lagu favorit saya dari band kesayangan saya, Dream Theater. Lagu ini sangat harmonis baik dari lirik dan musiknya, terlebih di video ini, diiringi oleh Octavarium Orchestra by James Sharified. Lyric is so deep.

Link : http://www.mediafire.com/?zziyyzd50ed


 

Blogger news

Blogroll

About

tes