Hippo Vb merupakan jenis IEM yang terbuat dari metal-body dan bass port yang bisa diubah2 sesuai selera. Saat ini gue menggunakan bass port yang ke-2 dengan arti bass standar. Awalnya gue suka musik yang bassy tapi lama2 jadi kritikal akan detail dan soundstage dan detail dikurangin. Tapi port nozzle dari iem ini gede banget dan bikin sakit(krn kuping gw kecil, pake earphone aja suka lepas mulu).
Hippo VB out of the box udah mantebh dengan bodi rigid. Pas disetel lagu-lagu dream theater ternyata cocok dengan hi-tempo nya dan hi-freq terlalu tajem dengan bass agak kacow. Tapi ini udah buat gue takjub karena baik hi maupun low nya berlebihan dengan asumsi abis di burn brarti akan naik kualitasnya. pas denger lagu2 merdu yao si ting kuping jadi agak sakit krn banyakan hi nya.
Burn in 50 jam
wah gila highnya turun jadi pas banget. bassnya masih kurang ke kontrol walopun mnurut gue udah bagus dan hebatnya detail ga ketutup bass dan keluar dengan baik. utk soundstage sendiri sampe saat ini iem blm ada yang bisa ngalahin tipe semi-closed headphone sendiri tapi VB udah bagus untuk iem ini.
Segini aja review singkat
Bass impact 7
Bass Quality 7
Details 9
Comfort 3.5
Soundstage 4
Noise-cancellation 6
+ cocok utk high tempo, details, high indah
- uncomfortable
Senin, 07 Desember 2009
Minggu, 04 Oktober 2009
Jalan-Jalan ke Tangkuban Perahu
Hari ini, tanggal 4 Oktober 2009 gue dan beberapa teman sejurusan jalan-jalan ke tangkuban perahu.
Awalnya kami kumpul didepan parkiran SR ITB. Semua naik motor yang akan berangkat ke sana. Setelah kumpul, kami menujue ke arah lembang via dago pakar. Jalan alternatif(sepertinya salah milih jalan) yang luar biasa ekstrimnya ini, harus dilalui oleh 15 motor campuran (ada Vixion, 2 Bajaj 180, Ninja 250, CBR, 2 Kharisma, MX, Vario, 2 Mio-motor kesayang gue salah satunya, Smash, Revo, sisanya lupa). Sebenernya banyak temen2 gue yang ga tau medan yang akan dilewati karena biasanya via setiabudi yang jalanannya macet dan panjang. Gue naik mio standar(spuyernya udah ga std) yang jalanannya kalo gue bilang ada kali sudutnya 45derajat. Udah gitu tanjakannya panjang banget. Keliatan banget dari seluruh track yg telah dilewati, ini merupakan track uji coba kesehatan motor. Bahkan motor2 itu ga bisa nyentuh gigi-2. Kalo gue naik mio, 2x gas pol pas tanjakkan panjang banget yang makin lama makin runcing aja. Itu kalo ga gue gas pol dan berhenti, yang ada juga gue turun dari motor sambil gue gas(untuk itu ga terjadi, walopun pernah terjadi sebelumnya). Dari garis paling atas bensin(bukan full) ngelewatin itu butuh 1,5strip.
Track sangat ekstrim telah dilewati dan awan menggelap, berhentilah kami di cek poin di pertemuan jalan alternatif yang nembus maribaya. Sebenernya agak aneh juga, baru nyampe maribaya, napas udah keluar asep(artinya udah dingin) padahal biasa ke lembang itu terjadi kalo malem ato pagi buta. Trus gerimis kecil-kecil dan dipakailah perlengkapan tempur kala hujan. Ada juga yang ga bawa jas hujan. Lalu mengarah ke tangkub, gerimis makin kencang dan makin dekat jalan masuk tangkub, terjadilah hujan. Lalu cek poin di pintu masuk wisata tangkub. Disitu pada istirahat sambil makan gorengan dan foto2. Sambil motornya istirahat juga(gw melihat motor gue tuh butuh istirahat) kita ngobrol2. Mulai deh main asap2an napas yang ga usah dibuat2 udah keluar sendiri.Ohya mio gue habis 1,5 strip lagi untuk sampe kesini. Bayangin aja dinginnya gimana, apalagi yang ga pake jas hujan(bagai ksatria saja). Lalu naik keatas dengan trek yang cukup ekstrim. Sesampai diatas, hujan makin lebat. Alhasil teman2 semua pada "ngiup" di tempat teduh dan jalan2 pake jas hujan(gada bedanya tukang parkir, orang jualan, sama temen2, karena pake jas ujan semua). Trus foto2 sebagaimana layaknya lagi hujan yang fotonya harus gantian supaya kamera tetap terlindungi. Lalu disana ngobrol2 dan foto2. Jam sudah mau nabrak pukul 6, kami semua pingin turun aja(kabut sudah turun dengan tajam sehingga penglihatan sangat terganggu). Dengan asumsi kalo turun tuh ga ngegas banyak, bensin sisa 1strip gue sikat aja. Dengan penglihatan seadanya (helm gada wiper, kacamata gada antiembun+wiper) gue jalan cuma ngikutin lampu belakang motor depan aja(udah kayak dewa aja gue ga liat jalan). Trus jalan via setiabudi. Saat di lembang yang terus turun ke setiabudi, terlihat lah kejayaan motor yang bisa menerobos kemacetan ber-kilo2. Sampe di cek poin (di WS setiabudi), itu jam 7(kalo turun sejam, kalo naiknya hampir 2jaman). Lalu kembali ke tempat start di SR ITB. Habis itu sharing2 ttg bensin, dan diketahui YAMAHA betapa dahsayatnya meneguk literan bensin dan SUZUKI smash yang keiritannya dikalahkan oleh mio gue.
Results:
Mio full tank--->3,6L/6strip(+batas atas +batas bawah)--->dipake 4strip--->2,4L
MX--->temen gue ngitung sendiri jatohnya 1:13kilo(goncengan,kemakan bensin di trek sangat ekstrim)
Smash--->start full, nyampe tangkub sisa dikit dan ngisi dkt kampus)--->normalnya kira2 3literlah.
Jarak tempuh :
bandung-tangkub=2x16
pintu masuk ke tangkub =2x4
muter2 cari makan dulu dibandung =3
total tempuh gue(karena odometer gue mati)---->43km
berarti mio gue nyampe 1:17,9(kacow nih, mnuurut gue sih ini irit karena bobot gue 2 orang dan spuyer gue ga standar)
Tapi mungkin karena ga standar+gue pasang katalis di tangki, jadi pas tanjakan lebih powerfull daripada mio std.
http://ezlaptop.com/?r=111529
Awalnya kami kumpul didepan parkiran SR ITB. Semua naik motor yang akan berangkat ke sana. Setelah kumpul, kami menujue ke arah lembang via dago pakar. Jalan alternatif(sepertinya salah milih jalan) yang luar biasa ekstrimnya ini, harus dilalui oleh 15 motor campuran (ada Vixion, 2 Bajaj 180, Ninja 250, CBR, 2 Kharisma, MX, Vario, 2 Mio-motor kesayang gue salah satunya, Smash, Revo, sisanya lupa). Sebenernya banyak temen2 gue yang ga tau medan yang akan dilewati karena biasanya via setiabudi yang jalanannya macet dan panjang. Gue naik mio standar(spuyernya udah ga std) yang jalanannya kalo gue bilang ada kali sudutnya 45derajat. Udah gitu tanjakannya panjang banget. Keliatan banget dari seluruh track yg telah dilewati, ini merupakan track uji coba kesehatan motor. Bahkan motor2 itu ga bisa nyentuh gigi-2. Kalo gue naik mio, 2x gas pol pas tanjakkan panjang banget yang makin lama makin runcing aja. Itu kalo ga gue gas pol dan berhenti, yang ada juga gue turun dari motor sambil gue gas(untuk itu ga terjadi, walopun pernah terjadi sebelumnya). Dari garis paling atas bensin(bukan full) ngelewatin itu butuh 1,5strip.
Track sangat ekstrim telah dilewati dan awan menggelap, berhentilah kami di cek poin di pertemuan jalan alternatif yang nembus maribaya. Sebenernya agak aneh juga, baru nyampe maribaya, napas udah keluar asep(artinya udah dingin) padahal biasa ke lembang itu terjadi kalo malem ato pagi buta. Trus gerimis kecil-kecil dan dipakailah perlengkapan tempur kala hujan. Ada juga yang ga bawa jas hujan. Lalu mengarah ke tangkub, gerimis makin kencang dan makin dekat jalan masuk tangkub, terjadilah hujan. Lalu cek poin di pintu masuk wisata tangkub. Disitu pada istirahat sambil makan gorengan dan foto2. Sambil motornya istirahat juga(gw melihat motor gue tuh butuh istirahat) kita ngobrol2. Mulai deh main asap2an napas yang ga usah dibuat2 udah keluar sendiri.Ohya mio gue habis 1,5 strip lagi untuk sampe kesini. Bayangin aja dinginnya gimana, apalagi yang ga pake jas hujan(bagai ksatria saja). Lalu naik keatas dengan trek yang cukup ekstrim. Sesampai diatas, hujan makin lebat. Alhasil teman2 semua pada "ngiup" di tempat teduh dan jalan2 pake jas hujan(gada bedanya tukang parkir, orang jualan, sama temen2, karena pake jas ujan semua). Trus foto2 sebagaimana layaknya lagi hujan yang fotonya harus gantian supaya kamera tetap terlindungi. Lalu disana ngobrol2 dan foto2. Jam sudah mau nabrak pukul 6, kami semua pingin turun aja(kabut sudah turun dengan tajam sehingga penglihatan sangat terganggu). Dengan asumsi kalo turun tuh ga ngegas banyak, bensin sisa 1strip gue sikat aja. Dengan penglihatan seadanya (helm gada wiper, kacamata gada antiembun+wiper) gue jalan cuma ngikutin lampu belakang motor depan aja(udah kayak dewa aja gue ga liat jalan). Trus jalan via setiabudi. Saat di lembang yang terus turun ke setiabudi, terlihat lah kejayaan motor yang bisa menerobos kemacetan ber-kilo2. Sampe di cek poin (di WS setiabudi), itu jam 7(kalo turun sejam, kalo naiknya hampir 2jaman). Lalu kembali ke tempat start di SR ITB. Habis itu sharing2 ttg bensin, dan diketahui YAMAHA betapa dahsayatnya meneguk literan bensin dan SUZUKI smash yang keiritannya dikalahkan oleh mio gue.
Results:
Mio full tank--->3,6L/6strip(+batas atas +batas bawah)--->dipake 4strip--->2,4L
MX--->temen gue ngitung sendiri jatohnya 1:13kilo(goncengan,kemakan bensin di trek sangat ekstrim)
Smash--->start full, nyampe tangkub sisa dikit dan ngisi dkt kampus)--->normalnya kira2 3literlah.
Jarak tempuh :
bandung-tangkub=2x16
pintu masuk ke tangkub =2x4
muter2 cari makan dulu dibandung =3
total tempuh gue(karena odometer gue mati)---->43km
berarti mio gue nyampe 1:17,9(kacow nih, mnuurut gue sih ini irit karena bobot gue 2 orang dan spuyer gue ga standar)
Tapi mungkin karena ga standar+gue pasang katalis di tangki, jadi pas tanjakan lebih powerfull daripada mio std.
http://ezlaptop.com/?r=111529
Jumat, 02 Oktober 2009
Review AKG k416p
AKG ini merupakan tipe closed portable headphone. Jenis ini merupakan produk langka dan susah dicari. Saya kebetulan saja bertemu dengan salah satu penjual headphone terkemuka dikaskus. Awalnya pengen ngebeli HD 212 pro, eh di tawarin yang satu ini. Katanya, "Coba aja dulu, gak nyesel beli ini dah, ini barang langka". Yaudah gue coba, ternyata emang jodoh ama suaranya. Yak sekian prolognya.
Dari segi build headphone ini agak ringkih, takut patah, apalagi dapetnya softcase pula, perlu extra hati2. Dari segi sound headphone ini bisa dibilang warm. Dengan bass yang punchy banget dan suara yang ga mendem2 amat ini, gw langsung terpikat. Out of the box nih headphone warm banget tapi detailnya mnurut gue udah lumayan(utk pertama kalinya gue membutuhkan yang namanya treble, karena gue treble haters). Headphone ini meredam suara luar dikategorikan biasa2 saja, begitu musik di setel baru kerasa agak kedap. Gue pertama kali ngetes ditokonya pake N82, dan ternyata nih headphone bisa keangkat(padahal sama2 32ohm=HD212pro). Mungkin karena ada vol kontrol kali ya.
Setelah Burn-in 200jaman terjadi perbedaan suara yang mnurut gue cukup signifikan. Mulai dari bass, kuantitas berkurang tetapi kualitas naik(jadi ga boomy gitu). Untuk lownya hampir gada perubahan(dari awal lownya udah mantebh) dan untuk midnya sama aja seperti awal. Nah yang dahsyat adalah highnya kerasa banget cling cling tapi ga nyakitin. Untuk detail suara naik pesat dan untuk separasi musik naik dikit dan soundstage meluas cukup besar.
Kelemahan utama gue adalah kurang nyamannya nih headphone dipake kalo pake kacamata(telinga bagian atas belakang menekan kencang sementara ada kacamata), jadi kalo pake kacamata paling cuma kuat sejam-dua jam.
| Headphones weight without cable (g) | 73 |
|---|---|
| Sensitivity (dB/mW, dB/V*) | 126* |
| Audio bandwidth (Hz to kHz) | 11-29,5 |
| Rated impedance (ohms) | 32 |
| 3D-Axis (folding mechanism) | ![]() |
| Patented self-adjusting headband | ![]() |
| Unbreakable metal arches | ![]() |
| 99.99% oxygen-free cable (length in m) | 1,0 |
| Hard gold-plated jack plug and contacts | ![]() |
| Closed-back, dynamic headphones | ![]() |
| NdFe magnets | ![]() |
| Suited for (SA)CD, DVD(A), DAT | ![]() |
| Best for MP3, CD, MD and PC/laptops | ![]() |
Score after burn-in 200hours
Bass impact 7
Bass Quality 10
Details 9
Comfort 4
Soundstage 7
Noise-cancellation 5
+ great bass respone (ga boomy), details, high indah
- body build, uncomfortable
HIGHLY RECOMMENDED
Senin, 28 September 2009
Arus Balik Kendaraan Semarang-Jakarta
Tren mudik memang terjadi tiap tahunnya. Walopun macet ga karuan (bahkan bisa lebih parah daripada macet di jakarta), itu seperti kewajiban. Sebenernya mudik adalah sebuah tradisi adat, bukan agama. Tapi disini saya bukan membahas mengenai arus mudik atau balik melainkan jenis kendaraan yang lewat.
Dari mobil sesuai abjad saja, yaitu Audi dan BMW. Dari brand tersebut saya hanya melihat dua kali BMW seri 3 yang baru jalan. Selain itu tidak ada yang "nongol". Selanjutnya adalah Daihatsu dan Chevy. Daihatsu didominasi oleh Espass dan Xenia sementar itu Chevy tidak ada. Selanjutnya Honda, didominasi oleh CRV(tipe lama), city (lama), jazz rs, dan lainnya minim. Untuk Hyundai, New Atoz dan KIA oleh carnival dan sedona. Selanjutnya Mitsubishi didominasi oleh Gallant, Kuda(lama), lancer(lama). Untuk Proton dan Suzuki, Suzuki muncul dengan Escudo (lama dan Grand), Carry, sementara Proton tidak ada. Toyota sangat melimpah yaitu kijang(kotak, lama, kapsul, Innova, New Innova), korola(lama), camry(baru), vios(lama), alphard. Untuk VW saya hanya melihat Caravelle. Data diatas merupakan data menurut pengamatan di jalan, jadi mohon maaf jika mobil lainnya tidak terlihat(mungkin karena saya lagi tidur atau tidak ketemu).
Untuk motor, didominasi oleh motor bebek pada umumnya dan untuk motor cowok banyak juga seperti Tiger, Megapro, Thunder, Ninja 2-tak(yang 250cc cuma liat 1), Vixion, Scorpio. Malahan untuk Satria F150R saya hanya melihat 2 biji dijalan dan no vespa, malahan ada bajaj.
Sekian laporannya.
Dari mobil sesuai abjad saja, yaitu Audi dan BMW. Dari brand tersebut saya hanya melihat dua kali BMW seri 3 yang baru jalan. Selain itu tidak ada yang "nongol". Selanjutnya adalah Daihatsu dan Chevy. Daihatsu didominasi oleh Espass dan Xenia sementar itu Chevy tidak ada. Selanjutnya Honda, didominasi oleh CRV(tipe lama), city (lama), jazz rs, dan lainnya minim. Untuk Hyundai, New Atoz dan KIA oleh carnival dan sedona. Selanjutnya Mitsubishi didominasi oleh Gallant, Kuda(lama), lancer(lama). Untuk Proton dan Suzuki, Suzuki muncul dengan Escudo (lama dan Grand), Carry, sementara Proton tidak ada. Toyota sangat melimpah yaitu kijang(kotak, lama, kapsul, Innova, New Innova), korola(lama), camry(baru), vios(lama), alphard. Untuk VW saya hanya melihat Caravelle. Data diatas merupakan data menurut pengamatan di jalan, jadi mohon maaf jika mobil lainnya tidak terlihat(mungkin karena saya lagi tidur atau tidak ketemu).
Untuk motor, didominasi oleh motor bebek pada umumnya dan untuk motor cowok banyak juga seperti Tiger, Megapro, Thunder, Ninja 2-tak(yang 250cc cuma liat 1), Vixion, Scorpio. Malahan untuk Satria F150R saya hanya melihat 2 biji dijalan dan no vespa, malahan ada bajaj.
Sekian laporannya.
Selasa, 08 September 2009
Tes-tes(iseng) Toyota Kijang Innova 2009 G

Ini mau cerita langsung aja. Nih mobil kebetulan disewa + driver untuk jalan2 di sumbar. Innova yang notabennye mobil keluarga, ini memang sangat nyaman untuk digunakan jarak jauh. Untuk supir sendiri cukup nyaman dengan ruang kaki luas dan posisi duduk yang tinggi. Tak hanya di situ aja, semuanya kalo disetel bener, gak bakal ada yang kesempitan kok (ukuran badan manusia yang biasa2 saja). Nah perjalanan pertama tuh dari bandara ke pariaman. Itu jalanan mulus banget. Innova jadi bawaannya tidur aja tuh...
Selanjutnya mulai naik ke danau maninjau. Saat diukur melalui GPS N82 itu altitudenye kira2 420m dpl. Tapi perjalanan kesana cukup landai karena trek yang panjang dan selama perjalanan ini Innova sangat mumpuni dengan membawa 5 orang + barang. Setelah itu mau jalan ke bukittinggi yang katanya sih lebih tinggi dari danau itu. Trus supirnya bilang kita akan naik lewat kelok 44(namanya keren juga..haha). Pertama sih bingung kok 44,..ternyata ada 44 belokan sambil nanjak.
Kelok pertama, terkesan sangat harus berhati-hati berhubung kelokannya 180 derajat. Hmmm kira2 kalo di Innova tuh muter stir hampir 360++. Dan dahsyatnya lagi ini tanjakan curamnye parah. Terpaksa Innova turun terus ke gigi-2, itu juga dengan kecepatan awal harus lebih dari 25kmh..kalo ga bakal turun ke gigi-1 dan itu bakal ngangkat lagi berat.. Bayangin aja 44 kelokan @ 180 derajat kec muter+nanjak 25kmh...udah kayak lagi lomba aje... Pas 5 kelokan pertama sih kaget, cuma lama2 asik. Dan ada juga kekhas-an disini, yaitu yang turun(arah kebawah) harus berhenti(bukan mengutangi kecepatan) saat mobil bawah mengklakson dan itu merupakan adat daerah sana. Kalo ada yang menyimpang, orang2 bakal tau kalo yang nyimpang bukan orang situ. Ohya lanjut lagi, di tanjakkan ini hampir tak pernah menggunakan gigi-3. Selain itu kebanyakan mobil2 yang lewat(baik mobil keren maupun pikup) gak pake AC. Alesannya karena supaya mesin bisa ngangkat, suhu disana juga cukup dingin sekitar 20derajat kebawah dan kaca wajib dibuka supaya bisa mendengar klakson. Secara garis besar, Innova dikelokan itu asik banget, ga limbung ato apa2 gitu. Kerasa kaki-kakinya kuat untuk diajak mengulir(treknya mirip ulir). Setelah sampai kelok 44-nya(puncaknya diketahui punya ketinggian 1200++m dpl), jalan terus menurun landai.
Setelah sampai di bukittinggi (kira2 750m dpl, mirip bandung euy) udara kerasa dingin. Ga kaya bandung yg tingginya 11-12 lah. Disana asri banget. Damainya kampung,hehe... Trus muter2 plus nyasar dan balik lagi ke padang lewat jalan utama(pulangnya jalan kebanyakan menurun, sehingga konsumsi bbm pun lebih irit). Bensinnya sisa 1 strip lebih dikit(kira2 kepakai 40L premium) yang digunakan kira2 untuk 500km-an lebih. Jadi itung2 bisa nyampe 12,5km/L. Cukup sangat irit juga ya. Karena Innova V 2004 dalam kota nyampe 7-9km/L dan kalo tol 12km/L. Nah itu Innova yang baru lebih irit padahal dalam mode kombinasi. Hal ini mungkin disebabkan semakin detailnya pembuatan mesin dan rapihnya mesin. Bayangkan saja beda kehalusan detail mesin dan pemasangan bisa beda konsumsi. Ohya sekedar info aja, temen om saya punya bengkel yang bisa ngalusin gitu2. Katanya bener konsumsi bbm jauh lebih irit dan torsi power naik semua. Cuma ya ga murah boi
hehehe
Sabtu, 22 Agustus 2009
iGrado - review

Dalam review kali ini, mungkin lebih singkat. iGrado merupakan jenis neckband (melilit dibelakang kepala), sehingga kurang populer untuk para pengguna headphone yang suka digunakan saat tiduran atao pun senderan. Selain itu, lilitan yang melewati bagian atas kuping cukup mengganggu untuk para user berkacamata. Meskipun tak sedikit juga para pengguna yang suka iGrado-ini karena kualitas suaranya.
Dari segi suara, iGrado ini terkenal dengan vocal forward. Artinya adalah saat mendengarkan, pendengar merasa berada didepan vokalis tersebut. Namun ketika saya mencoba, hal tersebut tidak saya rasakan karena suara luar yang bising(headphone ini tidak bisa menghisap suara luar). Selain itu mungkin memang belum di burn(barang sampel soalnya). Untuk soal detil cukup bagus dan soundstage yang tidak terlalu luas tapi cukup. Bass yang terasa lebih banyak bass quality dan bass impactnya cukup.
iGrado sangat nyaman digunakan(saya merasa lebih cocok digunakan ditempat yang agak sepi). Meskipun bahan plastiknya terlihat rentan patah, headphone ini cukup mudah untuk dikalungkan di leher(tidak portable untuk ditaruh di tas).
Score :
Bass impact 4
Bass Quality 7
Details 7
Comfort 8
Soundstage 4
Noise-cancellation 1
+ vocal forward, nyaman, bass tidak berlebih, clarity
- neckband, susah bagi pengguna kacamata, bahan
Headphone ini recommended
Langgan:
Entri (Atom)


